♥ Seperti masakan yang telah dibumbui pahit manisnya hidup♥

Jawaban yang Aneh

Dahulu kala, hiduplah seorang tuan tanah bernama Ludira yang kaya raya. Pada suatu hari, ia pergi menagih uang sewa tanah pada seorang petani. Petani itu berhutang 60 keping uang perak kepadanya. Namun, dengan bunga yang cukup tinggi, maka petani itu harus membayar 30 keping emas yang setara dengan 1800 keping uang perak.

Setiba di depan rumah petani itu,  Ludira hanya melihat seorang anak kecil sedang membelah bambu dengan pisau. Anak itu sedang membuat keranjang bambu. Anak itu terus bekerja. Seperti tidak melihat kedatangan Ludira yang sedari tadi mengamati gerak-geriknya.

“Dimana ayahmu, nak? Kenapa ia tak membayar hutangnya dengan segera?”tanya Ludira dengan kesal.

“Ayahku harus menggali lubang baru untuk menutup lubang tahun lalu,” kata anak yang bernama Cahyo itu, tanpa memperhatikan wajah Ludira. Ia tetap tenang seolah tak ada orang lain. Hal ini membuat Ludira kesal.

“Jawaban apa ini??” kata Ludira dalam hati. Ia bertanya lagi, “Dimana ibumu, nak??”tanyanya penasaran.

“Ibuku??”kata anak itu tetap menatap pisau dan bambunya yang sedang dibelah. “Ibu memanggang roti yang dimakan minggu lalu,” kata anak itu.

“Anak ini memang sembarangan! Bisa-bisanya dia menjahili seorang tuan tanah!” kata Ludira dalam hati. Ia bertanya lagi dengan lebih sopan dan lembut, “Nak, lalu dimana mbakyu mu dan kangmas mu??? “

Kangmas Cokro sedang memberi kehidupan pada yang sudah mati, Mbakyu Candra sedang menangisi kebahagiaan tahun lalu”kata anak itu tanpa menatap wajah Ludira. Keringatnya bercucuran dan wajahnya bercahaya tertimpa sinar matahari yang sedang panasnya.

“Namamu siapa?? Bisa-bisanya kamu menjahili seorang tuan tanah!”kata Ludira sambil mencengkram kerah baju Cahyo. Tubuh Cahyo terangkat dari tanah.

Cahyo merintih dan meminta untuk turun, namun Ludira menyeret Cahyo untuk dibawa ke rumahnya. Cahyo sudah diseret keluar dari rumah, dan sebentar lagi akan sampai ke rumah Ludira.

“Akan kukatakan kepada bapakmu, kalau bapakmu  tidak segera membayar hutangnya, maka kamu tidak akan kembali lagi ke rumahmu!!”

Seketika itu juga anjing miliknya keluar dari rumah. Cahyo menggigit tangan Ludira dan langsung mencengkram anjingnya dengan kedua tangannya.

“Sekarang, apa lagi yang kamu lakukan sampai kamu menggigit tanganku??? Hah!” kata Ludira.

“Saya hanya melindungi tungkai,”kata Cahyo tenang. Ia berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan akibat kemarahan Ludira.

“Cepat beritahu arti semua kata yang dari tadi kamu ucapkan!”kata Ludira.

“Dengan tiga buah syarat. Tuan harus menyobek bon sebesar 1800 keping uang perak itu, memberi kami uang 50 keping uang perak untuk membeli bibit dan pupuk, dan …” kata Cahyo terputus oleh rasa penasaran Ludira. Ia tak sempat melanjutkan omongannya

“Apa??”tanya Ludira

“Tiap kali Bapak meminjam uang, Bapak tak perlu mengembalikan uang itu ke Tuan!” kata Cahyo mantap.

“Baiklah, apa arti dari itu semua??”tanya Ludira.

“Bapak menggali lubang untuk menutup lubang tahun lalu…artinya Bapak sedang meminjam uang kepada Tuan Tanah lainnya untuk melunasi hutang Bapak kepada Tuan. Ibuku memanggang roti yang dimakan minggu lalu, maksudnya minggu lalu kami meminta sebuah roti dari tetangga, namun, roti itu harus dikembalikan, jadi ibu sedang memanggang roti untuk mengembalikan roti yang diminta minggu lalu ke tetangga.”kata Cahyo

“Hm…Lalu, mbakyu dan kangmasmu ??”

Kangmas memberi kehidupan kepada yang sudah mati, maksudnya sedang mengairi sawah agar benih-benih padi itu dapat hidup atau  tumbuh dan berbuah. Sedangkan Mbakyu menangisi kebahagiaan tahun lalu, maksudnya sedang sedih, karena terkenang kepada suaminya yang meninggal tahun lalu,”kata Cahyo.

“Saya melindungi tungkai, maksudnya, kalau  anjing ini tidak saya tahan, ia sudah pasti menggigit tungkai Tuan,”kata Cahyo. Cahyo melanjutkan,”Sekarang Tuan harus menyobek bon sebesar 1800 uang keping perak, dan harus memberikan uang 50 keping perak.”

Ludira terkesima dengan kecerdasan anak itu, dan segera mengajak Ludira ke rumahnya untuk tinggal bersama. Dengan kecerdasan Cahyo, keluarganya dapat tinggal di rumah Ludira dan menjdai bangsawan yang termasyur.

 

(Diambil dari Majalah Bobo, dengan sedikit penggubahan)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.